pure for purple

Pada suatu waktu, ketika aku masih duduk di bangku SMP kelas 3. Aku heran dengan banyak orang yang mementingkan suatu warna terdapat pada objek benda yang mereka miliki. Mereka bilang,”aku suka warna yang pink!”, ada juga yang bilang,”aku maunya warna yang biru!”, bahkan banyak juga yang bilang,”warna hitam paling keren!”. Ada juga beberapa orang yang harus merasa tidak suka dengan suatu benda, hanya karena barang tersebut memiliki warna yang tidak sesuai dengan selera mereka. “ih..warna pink, cewek banget sih!”,”duh..jangan ungu donk, warna janda!”,”lha..kok kuning!? norak tau!”.

Anehkan? padahal menurut aku, semua warna itu kan sama saja, kenapa harus dipersoalkan sih!? Itu..adalah suatu pertanyaan retorik yang terpikirkan oleh aku, dulu. Beberapa teman aku yang aku tanya tentang mengapa mereka harus memilih yang mereka suka, jawaban mereka ternyata hanya sederhana saja,”abis bagus sihh!”,”feminim!”,”rocker men!” ato hanya bilang,”suka aja!”. Jawaban yang sangat singkat tanpa perlu suatu alasan yang dibuat-buat. Dari kesemuanya itu, hal menjadi terbalik. Adalah ketika mereka bertanya tentang apa warna kesukaanku. Aku terdiam dan berpikir. Dan jawaban aku hanya, semua warna kan sama saja.

Terpikirkan oleh hal itu, seketika itu pun aku mulai ingin juga memiliki satu warna yang nantinya bisa membuat aku menjawab pertanyaan seperti itu. Mejikuhibiniu. Semua terlihat biasa saja untuk aku. Namun, pilihan harus tetap ditentukan. Inspirasi warna pertama yang ingin aku jadikan kesukaan adalah ketika aku melihat ke atas. Luasnya langit dan indahnya bentangan sang biru. Warna yang manis untuk sebuah selimut bumi. Satu warna pun, terpilih.

Semingguan berlalu ketika aku memutuskan warna tersebut. Lingkungan sekitar pun membuat aku ragu akan pilihan yang tersebut. Alasannya cukup sederhana. Sembilan puluh persen dari orang yang berada disekitar aku, lebih suka memilih warna biru dari pada warna lain. Ough…aku merasa tidak nyaman dengan hal itu. Dan sejak saat itulah, keputusan terpilih. I hate blue. Aku lebih menghindari warna itu daripada warna yang lain.

Daun. Itu hijau. Itu ada hampir di setiap tempat. Itu ada disekitar manusia berada. Itu ada menandakan kehidupan masih ada harapan. Tapi, mereka mengacuhkannya, melewatinya saja, menganggap seolah itu adalah biasa. Kenyataannya, itu adalah yang membuat manusia masih bisa bernafas untuk hidup. Filosofi sederhana, tapi aku suka itu. Aku suka warna hijau. Sekarang, dan untuk selama aku menyukainya.

Advertisements

~ by kidKae on July 5, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: